Home > Articles > Perkembangan Bayi & Anak > Bagaimana Cara Mengajari Anak Bersosialisasi Sejak Dini?

Bagaimana Cara Mengajari Anak Bersosialisasi Sejak Dini?

Setiap manusia memerlukan kemampuan sosialisasi untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga, sahabat, dan rekan kerja. Yuk, ajari anak bersosialiasi sejak dini, untuk mendukung mereka hidup mandiri dan lebih percaya diri!

Orang-orang terdekat atau lingkungan sosial berpengaruh besar dalam pembentukan karakter dan pemikiran seseorang. Memiliki teman, juga termasuk komponen hidup yang dapat membantu kelancaran urusan, hingga menopang kesehatan mental.

Karena itulah, tentu menenangkan dan menyenangkan apabila Ayah dan Bunda dianugerahi anak yang supel dan ramah. Keluarga besar dan orang-orang di sekitar juga akan turut bahagia karena energi positif yang ia tebarkan.

Namun, jika anak menunjukkan gelagat sebaliknya, cenderung pemalu atau canggung, Ayah dan Bunda juga tidak perlu khawatir. Perlahan, ajari anak untuk mengenal, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan beragam manusia dari berbagai latar belakang.

Apa saja upaya yang dapat Ayah dan Bunda lakukan? Berikut ini 10 langkah untuk mengajari anak bersosialisasi sejak dini:

  1. Mengamati dan memperhatikan anak
    Kenali keunikan setiap anak. Amati cara mereka berinteraksi dengan teman sebaya dan orang-orang di sekitar. Apabila anak senang tersenyum, pandai bergaul, dan mudah beradaptasi, bimbing mereka untuk terus menunjukkan akhlak yang baik dan positif. Sementara itu, apabila anak cenderung takut atau pemalu, posisikan diri dan pahami perasaan mereka. Bantu anak merasa nyaman dan perkenalkan ia pada lingkungan tanpa harus memaksa.
  2. Atmosfer yang terbuka
    Terapkan hubungan dan suasana yang terbuka dalam keluarga. Ajak anak berkomunikasi tentang berbagai hal, mulai dari makanan, kegiatan harian, hingga alam. Sediakan pula waktu khusus untuk berbicara tentang perasaan anak dan orang tua, baik senang, sedih, atau kesal. Bersikaplah tenang, bangun atmosfer yang nyaman, lalu dukung anak bertanya, berpendapat, atau sekadar bercerita dan mencurahkan perasaannya.
  3. Membebaskan anak berekspresi
    Berikan ruang dan dukungan pada anak untuk mengeksplorasi minat dan bakat. Biarkan anak merasakan dan memilih kegiatan yang paling mereka gemari. Karena, dengan mengenali kemampuan dan keinginan diri sendiri, anak terlatih untuk berekspresi, berkomunikasi, menghadapi tantangan, serta lebih percaya diri.
  4. Membangkitkan rasa percaya diri
    Orang tua harus menjadi pihak yang paling mengenal, serta memahami kelebihan dan kekurangan anak. Maka, hargai dan apresiasi setiap karya dan pancapaian anak untuk membangkitkan kepercayaan diri mereka. Karena untuk menjalin interaksi yang luwes dengan orang lain, anak perlu merasa nyaman dengan dirinya sendiri.
  5. Bermain bersama
    Bermain bersama teman sebaya dan saudara dapat menjadi kegiatan yang baik untuk melatih anak berkomunikasi, berinteraksi, mengenal lingkungan, dan mengekspresikan diri. Kurangi intensitas penggunaan gawai berupa smartphone, tablet, atau komputer  sebagai sarana hiburan, dan ajaklah anak ke luar rumah agar dapat bertemu dan bermain bersama anak lainnya.
  6. Memilih kelompok yang positif
    Dukung dan fasilitasi anak untuk terlibat dalam suatu aktivitas sosial atau kelompok belajar, berupa komunitas anak, tim olahraga, atau kursus yang sesuai dengan minatnya. Sesekali, Ayah dan Bunda juga dapat mengajak anak terlibat dalam kegiatan warga di sekitar rumah. Dengan begitu, anak akan mendapat kesempatan untuk bertemu dengan teman baru, mengenal lingkungan, bergaul, dan mengaktualisasikan dirinya.
  7. Tidak mengekang
    Sikap yang terlalu protektif dapat membatasi potensi anak dan mengurangi interaksi mereka dengan lingkungan. Maka, bangun kebiasaan yang dapat mendukung anak hidup mandiri dan belajar bersikap dalam interaksi sosial. Misalnya, membimbing mereka untuk mengurus keperluan yang sederhana, seperti menelepon teman, membeli makanan di warung, atau menerima paket.
  8. Mengajarkan etika pergaulan
    Selain mendorong anak bersosialisasi, Ayah dan Bunda juga harus memberi arahan tentang sikap atau etika yang berlaku di lingkungan sosial. Tanamkan nilai-nilai penting, seperti menghargai perbedaan, mempertahankan prinsip, menaati peraturan, atau menjaga ketertiban umum, agar anak lebih mudah berbaur dan mendapat respon yang baik dari orang lain.
  9. Memaparkan arti pertemanan
    Apabila anak cenderung pemalu, maka ia perlu motivasi untuk dapat aktif berinteraksi dengan orang lain. Maka, Ayah dan Bunda perlu memberi pemahaman yang baik terkait hubungan pertemanan dan interaksi sosial. Dengan demikian, anak dapat memacu dirinya sendiri untuk lebih terbuka dan luwes dalam bergaul.
  10. Menjadi teladan
    Orang tua menjadi contoh yang paling lekat dengan keseharian anak. Karena itu, jadilah teladan atau role model yang baik dalam bersosialisasi. Seiring waktu, anak akan mencontoh cara orang tua mereka berbicara, bergaul dengan tetangga, atau berkenalan dengan orang baru.

Poin penting lainnya, orang tua juga wajib memperhatikan aktivitas dan lingkaran pertemanan anak. Kuatkan nilai-nilai luhur kepercayaan dan karakter yang baik, agar anak tidak mudah terpengaruh atau tergelicir pergaulan yang salah.

Biarkan mereka bebas, namun tetap cerdas dan selalu bertanggung jawab. Yuk, main bersama anak!

Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn